5 Skill Negosiasi Yang Wajib Dimiliki Untuk Mencapai Sukses

Post Image
  • 1 bulan lalu

Setiap hari, hampir setiap karyawan rutin melakukan negosiasi. Baik negosiasi dengan customer untuk melakukan penjualan, dengan perusahaan rekanan untuk kesepakatan kontrak, hingga negosiasi dengan rekan kerja mengenai pilihan tempat makan siang. Karena negosiasi rutin terjadi, seringkali kita menganggap negosiasi sebagai hal biasa yang tidak perlu dipelajari secara khusus.

Padahal, dengan skill negosiasi yang baik, banyak hal baik yang bisa didapat oleh seorang karyawan. Seperti, kenaikan gaji yang lebih sering (atasan dengan senang hati menaikkan gaji tanpa “ancaman”), nilai kontrak yang lebih tinggi (dengan kedua belah pihak sama-sama merasa senang), mengubah customer yang marah menjadi customer setia, dan sebagainya.

Berikut 5 skill negosiasi yang wajib dimiliki karyawan untuk mencapai sukses.

Analisis Masalah dan Solusi
"Jika saya memiliki 60 menit untuk memecahkan sebuah masalah, saya akan menghabiskan 55 menit untuk menentukan apa masalah yang sebenarnya, dan 5 menit untuk menyelesaikannya",  Albert Einstein

Negosiator yang efektif wajib memiliki skill untuk menganalisis sebuah masalah dan menentukan keperluan tiap pihak yang terlibat. Sebuah analisis masalah yang detail mampu mengidentifikasi isu-isu, ketertarikan pihak yang terlibat, dan tujuan akhirnya. Setelah memahami masalah dengan jelas, kita akan lebih mudah untuk menemukan solusi atas masalah tersebut.

Sebagai contoh, dalam negosiasi kontrak antara karyawan dan pemberi kerja, area yang sering menjadi masalah di negosiasi biasanya terkait pada besar kompensasi (gaji dan bonus) atau mengenai fasilitas. Dengan mengidentifikasi masalah dari sudut pandang kedua belah pihak, keduanya dapat mengambil jalan tengah yang dapat diterima kedua belah pihak.

Seperti, solusi kontrak jangka pendek untuk masa percobaan kerja, dapat menjadi solusi bagi masalah calon karyawan yang menginginkan kesempatan untuk menunjukkan kinerjanya dan pemberi kerja yang masih ragu dengan kinerja calon karyawan tersebut.

Persiapan
"Sukses itu adalah ketika persiapan dan kesempatan bertemu", Bobby Unser

Sebelum memulai negosiasi, seorang karyawan yang memiliki skill negosiasi yang baik pasti melakukan persiapan untuk negosiasi tersebut. Persiapan yang baik dapat menjadi penentu penting dalam sebuah negosiasi.

Sebagai contoh, dengan riset sederhana, saat ini kita dapat mengetahui latar belakang perusahaan atau seseorang secara online. Dengan mengetahui informasi latar belakang tersebut, seorang karyawan yang cerdas dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk membangun keakraban atau membuat topik obrolan yang menyenangkan dan menghasilkan situasi negosiasi yang lebih kondusif.

Mendengarkan Secara Aktif
"Kebanyakan orang mendengarkan bukan untuk memahami; namun agar mereka dapat merespon", Stephen R. Covey

Tiap negosiator perlu berlatih untuk mendengarkan secara aktif, yaitu berusaha memahami apa yang disampaikan oleh kawan bicara, baik secara verbal maupun non-verbal. Dengan memahami maksud sebenarnya dari apa disampaikan oleh pihak lain dalam negosiasi, kita dapat melakukan analisis masalah dengan lebih akurat sekaligus dapat memikirkan solusi yang lebih tepat untuk kedua belah pihak.

Sebagai contoh, ketika dalam meeting mingguan ada rekan kerja berkata “haruskah pekerjaan berat ini saya selesaikan seorang diri?” , seorang negosiator yang baik tidak akan merespon pertanyaan retoris tersebut dengan jawaban yang membuat rekan kerja tersebut semakin tertekan atau jengkel. Namun, dia dapat mendengar untuk berempati atau bahkan memberi solusi yang lebih baik bagi dirinya sendiri maupun rekan kerja tersebut.

Kontrol Emosi
"Kontrol emosi Anda, atau emosi tersebut akan mengontrol diri Anda", Peribahasa China

Kontrol emosi merupakan hal yang sangat vital dalam negosiasi. Pihak yang tidak mampu mengontrol emosinya, seringkali menjadi pihak yang menyesali keputusan atau ucapannya setelah negosiasi berakhir. Walaupun kadang negosiasi berjalan dengan alot dan membuat frustasi, seorang negosiator yang baik akan memeriksa dan memastikan bahwa emosinya tetap terkontrol selama negosiasi berlangsung.

Sebagai contoh, seorang direktur utama yang merasa frustasi karena negosiasi gaji general manager baru yang direkturnya dari perusahaan lain berjalan stagnan. Karena negosiasi yang melelahkan tersebut, direktur utama tersebut akhirnya menyetujui gaji yang jauh lebih tinggi dari perkiraan awalnya. Hal ini mengakibatkan terganggunya anggaran keuangan perusahaan akibat alokasi gaji general manager baru tersebut.

Komunikasi Verbal dan Non-verbal
"Cara kita berkomunikasi dengan orang lain dan dengan diri kita sendiri, sangat menentukan kualitas hidup kita", Anthony Robbins

Komunikasi (baik verbal maupun non-verbal) merupakan kunci terpenting dalam negosiasi. Seorang negosiator wajib memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif agar dipahami oleh pihak lain dalam negosiasi. Seringkali, komunikasi yang kurang jelas menimbulkan kesalahpahaman yang dapat merubah situasi negosiasi.
Sebagai contoh, Jack Welch, sang legenda manajemen dari General Electric, menggunakan teknik 4-blocker untuk menyampaikan gagasannya dalam tiap meeting perusahan. Teknik presentasi 4-bloker menggunakan 1 slide power point saja dengan fokus pada 4 area (What, Achieved, Under The Spotlight, and What’s Next). Teknik ini “memaksa” presenter untuk menyederhanakan sekaligus memperjelas apa yang ingin disampaikan. Dengan implementasi teknik ini, negosiasi dalam meeting-meeting General Electric berjalan dengan lebih efisien sekaligus efektif.

Sumber: David Setiadi

arrow