5 Bakteri Berbahaya Pada Daging dan Cara Mengatasinya

Post Image
  • 4 hari lalu

Selamat hari Raya Idul Adha! Pada perayaan yang satu ini tradisi potong hewan kurban seperti kambing dan sapi merupakan hal yang tidak bisa dilewatkan.

Pada perayaan ini pula, olahan daging sapi dan kambing menjadi menu masakan yang umum ditemui.

Namun tahukah Anda bahwa mengelola daging sapi dan kambing tidak bisa dilakukan secara sembarangan? Ada 5 bakteri berbahaya yang dapat mengontaminasi daging sapi dan kambing dan menyebabkan penyakit jika terkonsumsi.

Apa saja bakteri berbahaya pada daging sapi dan kambing? Bagaimana cara mengatasinya? Ini dia penjelasannya...

Bakteri E.Coli

Escherichia coli atau lebih dikenal sebagai bakteri E. Coli merupakan bakteri yang terdapat di dalam isi usus binatang ternak seperti kambing dan sapi.

Bakteri ini dapat dengan mudah mengontaminasi daging hewan kurban pada saat proses pemotongan. Bahayanya apabila terkonsumsi, bakteri E.Coli dapat menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan.

Bakteri Salmonella

Bakteri berbahaya selanjutnya yang terdapat pada daging kambing dan sapi adalah salmonella.

Bakteri ini berkembang biak pada saluran pencernaan hewan dan apabila terkonsumsi dapat menyebakan diare, typus, dan gangguan pencernaaan.

Bacillus Anthracis

Tentu bakteri yang satu ini bukan hal asing jika kita berbicara soal hewan ternak seperti kambing.

Bacillus anthracis dapat menyebabkan penyakit antraks apabila tidak sengaja masuk ke dalam tubuh manusia. Gejala umum dari penyakit ini bisa berupa batuk, gatal, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kepala, dan sakit tenggorokan.

Staphylococcus Aureus

Bakteri staphylococcus aureus muncul umumnya karena pengolahan daging yang salah seperti proses pemotongan, penyimpanan, bahkan sampai proses memasak yang tidak sesuai dengan standar keamanan pangan.

Bahayanya bakteri ini dapat menyebabkan tekanan darah rendah, napas yang lebih cepat, bengkak pada kulit, hingga infeksi tulang belakang.

Clostridium Perfringens

Clostridium Perfringens adalah sejenis bakteri yang berbentuk spora dan dapat menyebabkan keracunan jika tertelan atau masuk ke dalam tubuh.

Gejala awal dari keracunan bakteri clostridium perfringens dapat dicirikan dengan diare, keram perut, dan dehidrasi.

Itulah 5 bakteri berbahaya yang rentan ada pada daging-dagingan. Cukup mengkhawatirkan jika dibaca dampaknya, namun bukan berarti tidak bisa diatasi.

Mengelola daging dengan benar dan tepat sesuai standar keamanan pangan adalah solusinya. Berikut kami bagikan untuk Anda.

Tips Mengelola Daging dengan Benar Sesuai Standar Kemanan Pangan

1. Lakukan Penyimpanan dengan Tepat

Tempatkan daging di wadah tertutup dan simpan di lemari es dengan suhu 4oC-5°C atau bisa juga di Freezer dengan suhu -18°C juga. Semakin dingin tempat penyimpanan Anda, maka akan semakin lama umur simpannya.

2. Jangan Mencuci Daging

Tidak disarankan untuk mencuci daging karena dapat merusak kualitas daging dan berpotensi mencemarkan bakteri pada daging.

3. Pisahkan Daging dengan Bahan Makanan Lain

Untuk menghindari kontaminasi silang, pisahkan daging dan bahan makanan lain di wadah terpisah. Selain itu, pisahkan juga penggunaan pisau dan talenan daging dengan bahan makanan lainnya.

4. Diamkan Daging di Suhu Ruang Sebelum Dimasak

Apabila daging sebelumnya disimpan di lemari es, maka diamkan daging di suhu ruang atau basuh dengan air mengalir dengan suhu sekitar 21oC.

5. Masak Daging Di Suhu yang Tepat

Masak daging hingga suhu intinya mencapai suhu minimal 63°C, selama minimal 4 menit.

Perayaan Idul Adha sudah sepatutnya dirayakan dengan sukacita dan khidmat berbagi untuk sesama. Jangan biarkan bakteri-bakteri berbahaya pada daging merusak momen berharga Anda, ikuti cara pengelolaan makanan yang benar dan pastikan semua orang aman mengonsumsi makanan yang Anda buat.

Untuk informasi mendalam seputar sistem keamanan pangan lainnya, kunjungi Food Safety Quality dan ikuti Public Training maupun Virtual Training yang kami selenggarakan. Mau ajuin project In-House Training dan persiapan Internal Audit juga bisa. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

arrow