Waisak merupakan hari keagamaan yang dirayakan umat Buddha untuk mengenang ajaran dari Guru Agung Buddha Gautama. Indonesia sebagai negara yang menganut lima kepercayaan, termasuk Buddha di dalamnya memiliki berbagai tradisi unik menyambut waisak. Apa saja? Let's check it out!

Setiap tahunnya, umat Buddha dari penjuru tanah air datang ke Candi Borobudur untuk mengikuti kirab dari Candi Mendut ke Candi Borobudur sejauh 3 kilometer.
Pada acara kirab ini, rombongan akan membawa replika Sang Buddha, api dharma, air berkah, dan kitab suci Tripitaka. Kirab akan ditutup dengan pelepasan lampion di kompleks Candi Borobudur.

Umat Buddha akan memadati jalan protokol sambil membawa arak-arakan, seperti barongsai, atraksi naga, serta mobil dengan hiasan patung Buddha dan lampu berwarna-warni. Tradisi ini memang sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya Tiongkok yang cukup kental di daerah Pekanbaru.

Bercampur dengan tradisi Jawa, pada kirab ini umat Buddha akan mengarak replika Sang Buddha dan membawa sesajen persembahan yang akan diletakkan ke vihara terdekat dengan mengenakan pakaian adat Jawa. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk mengenang ajaran Guru Agung Buddha Gautama.

Umumnya ratusan umat Buddha akan datang dan melakukan perayaan Waisak di Candi Muaro Jambi. Ritual dimulai dengan mengitari kompleks candi, sembahyang, semadi yang dipimpin biksu, serta diakhiri dengan pelepasan lampion.
Dilansir dari berbagai sumber, Festival Candi Muaro merupakan perayaan waisak terbesar kedua setelah kirab yang dilaksanakan di Candi Borobudur.